Sifat-sifat Gereja || Agama Katolik || Kelas 11 Semester 1 KURTILAS Revisi

 Sifat-sifat Gereja

GEREJA YANG SATU

A. Arti Gereja yang Satu

1. Gereja percaya akan kehendak Allah. Karena Roh Kudus yang mempersatukan para anggota, dengan para pimpinan jemat, baik partikular maupun Universal (Paus) yang berkedudukan di Vatikan.

2. Kesatuan Gereja terungkap dalam :
a. Kesatuan iman dan para anggotanya
b. Kesatuan dalam Hierarki
c. Kesatuan dalam kebaktian
d. Kesatuan dalam kehidupan sakramental (Ef 4 : 3-6)

3. Kesatuan Gereja terarah kepada kesatuan yang jauh melampaui batas-batas Gereja dan terarah kepada kesatuan semua orang yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim 2:22)

4. Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK), Gereja itu satu karena 3 alasan :
a. Satu menurut asalnya, Tritunggal Mahakudus.
b. Satu menurut pendirinya, Yesus Kristus.
c. Satu menurut jiwanya, Roh Kudus yang tinggal di hati umat beriman.

5. Semangat pendorong persatuan adalah semangat dan Roh Kristus.

B. Ciri Gereja yang Satu
1. Satu iman
2. Satu baptisan
3. Satu (perayaan) Ekaristi
4. Satu pimpinan di seluruh dunia


GEREJA YANG KUDUS
A. Arti Gereja yang Kudus
Gereja menjadi kudus karena Yesus Kristus adalah kudus. Ia mengasihi Gereja-Nya dan menyerahkan diri kepada Gereja untuk menguduskannya sehingga umat dipersatukan dengan Yesus menjadi kudus.

B. Alasan Gereja itu Kudus
1. Asal yang kudus, yaitu berasal dari Kristus sendiri (Yoh 17:19, Ef 5:25-27)
2. Tujuan yang kudus, yaitu bersatu dan memuliakan Allah dan menjadi tanda keselamatan bagi seluruh umat manusia. (Ef 1:4, Ptr 1:15)
3. Dibimbing oleh Roh Kudus (Mrk 13:11, Yoh 14:26, Mat 28:20b)

C. Kekudusan Gereja
1. Unsur-unsur ilahi yang otentik/asli yang berada dalam gereja adalah kudus, misalnya :
a. Ajaran-ajaran (Alkitab PL dan PB, Tradisi gereja, Magisterium / pihak berwenang dalam pengajaran Gereja Katolik Roma)
b. Sakramen-sakramen (baptis, ekaristi, krisma, tobat, imamat, pernikahan, pengurapan orang sakit)

2. Anggota Gereja adalah kudus karena ditandai oleh Kristus melalui pembaptisan dan dipersatukan melalui iman, harapan, dan cinta yang kudus. Artinya, kita semua dipanggil menuju kekudusan.

3. Usaha untuk menjaga kekudusan Gereja :
a. Saling memberi kesaksian untuk hidup sebagai anak-anak Allah
b. Merenung dan mendalami Kitab Suci, khususnya tentang ajaran dan hidup Yesus
c. Terlibat dalam kegiatan sosial rohani dan kemasyarakatan serta yang bersifat sakramental.


GEREJA YANG KATOLIK
A. Arti Katolik
1. Bhs. Latin “Catholicus” → Universal/Umum. Istilah ini muncul sejak awal abad ke-2 M, pada masa St. Ignatius dari Anthiokia menjadi uskup.
2. Universal → mencakup semua yang telah dibaptis secara Katolik di seluruh dunia, di mana setiap orang menerima pengajaran iman dan moral serta tata liturgi yang sama.
3. Universal juga menegaskan tidak adanya sekte-sekte dalam Gereja Katolik
4. Pada dasarnya, Gereja Katolik disebut-sebut memiliki arti sebagai umum yang didasarkan oleh 3 hal, yaitu :
a. Keterbukaan
Umum/Terbuka untuk semua orang dari berbagai kalangan.
b. Waktu
Ajaran Katolik berasal dari ajaran yang disampaikan Kristus, akan tetap terus diajarkan dari waktu ke waktu tanpa berkesudahan.
c. Tempat
Gereja Katolik tidak memiliki 1 wilayah tertentu sebagai tempat pewartaan kabar gembira yang telah dibawa oleh Yesus, tetapi ada di banyak tempat, dengan puastnya di Vatikan (tempat Paus tinggal).

5. Arti Kekatolikan menurut LG KV II
Gereja yang Katolik secara tepat guna dan tiada hentinya berusaha merangkum segenap umat manusia berserta harta kekayaannya di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya.

6. Makna Katolik menurut Ajaran Gereja :
a. Gereja dapat hidup di tengah segala bangsa dan memperoleh warganya dari semua bangsa.
b. Ajarannya dapat diwartakan kepada segala bangsa.
c. Terbuka bagi dunia, tidak terbatas pada tempat/waktu/golongan masyarakat tertentu. Kekatolikkan Gereja tampak dalam rahmat dan keselamatan yang diwartakan.

7. Kekatolikkan Gereja tidak berarti :
a. Gereja meleburkan diri ke dalam dunia. Dalam keterbukaa nitu, Gereja tetap mempertahankan identitas dirinya.
b. Identitas Gereja tidak bergantung pada bentuk lahiriah tertentu melainkan suatu identitas yang dinamis, dimana selalu mempertahankan diri, bagaimanapun bentuk pelaksanaannya.

8. Gereja bersifat dinamis, maka usaha untuk mewujudkannya dengan cara :
a. Bersikap terbuka dan menghormati kebudayaan, adat, agama dan bangsa lain.
b. Bekerjasama dengan pihak manapun yang berkehendak baik untuk mewujudkan nilai-nilai luhur di dunia ini.
c. Berusaha memprakarsai dan memperjuangkan dunia yang lebih baik bagi umat manusia.
d. Melibatkan diri dalam hidup bermasyarakat, sehingga kita dapat memberi kesaksian bahwa Katolik, berarti terbuka bagi apa dan siapa saja yang berkehendak baik.



GEREJA YANG APOSTOLIK
A. Arti Gereja yang Apostolik
1. Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka.
2. Gereja dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
3. Gereja sekarang mengaku dirinya sama dengan Gereja Perdana/Para Rasul, dimana hubungan historis ini jangan dilihat dari pergantian orangnya, melainkan kelangsungan iman dan pengakuan.
4. Gereja tidak hanya mengulang apa yang sejak dulu sudah diajarkan dan dilakukan di dalam Gereja. Keapostolikan berarti dalam perkembangan hidup tergerak Roh Kudus, Gereja senantiasa berpegang pada Para Rasul.
5. Sifat Apostolik harus mencegah Gereja dari segala rutinisme yang bersifat ikut-ikutan, artinya seluruh anggota bertanggung jawab dan melayani.
6. Sifat Apostolik tidak pernah selesai tetapi selalu berupa tuntutan dan tantangan.
7. Roh Kudus melindungi Gereja dari kesalahan dalam otoritas mengajarnya.

B. Kristus Mendirikan Gereja dan Mempercayakan Otoritas-NYa kepada Para Rasul
1. St. Petrus, paus pertama dan uskup Roma bertindak sebagai vicaris (wakil-Nya) di dunia.
2. Otoritas ini telah diwariskan melalui sakramen tahbisan suci dalam suksesi Apostolik dari Uskup ke Uskup, kemudian diperluas ke imam dan diakon.
3. Mereka dipanggil Gereja dan ditahbiskan ke dalam pelayanan Apostolik yang dianugerahkan Tuhan kepada Gereja-Nya untuk dilaksanakan dalam persatuan dengan Paus.

C. Hubungan Antara Gereja dengan Para Rasul
1. Legitimasi fungsi dan kuasa hierarki dari para Rasul.
2. Fungsi dan kuasa hierarki diwariskan dari para Rasul.
3. Ajaran-ajaran Gereja diturunkan dan berasal dari kesaksian para Rasul.
4. Ibadat dan struktur Gereja pada dasarnya berasal dari para Rasul.
5. Menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang pelayanannya.


D. Apostolik dalam Kitab Suci
1. Yesus mengutus para Rasul dengan bersabda “Pergilah, ajarilah semua bangsa, dan baptislah mereka atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka menaati segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mat 28:19-20)
2. Perintah resmi dari Kristus untuk mewartakan kebenaran yang menyelamatkan itu oleh Gereja diterima oleh para rasul dan harus dilaksanakan sampai ke ujung bumi.
3. Gereja akan terus menerus mengurus para pewarta sampai Gereja-gereja baru terbentuk sepenuhnya untuk melanjutkan karya perwataan Injil.
4. Tambahan, Ad Gentes adalah dekrit tentang kegiatan missioner Gereja. Ad Gentes art. 5 berkaitan dengan keApostolikan Gereja.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sumpah Pemuda dalam Masa Pergerakan Nasional || Sejarah Wajib || Kelas 11 Semester 1 KURTILAS Revisi

Sejarah Kedatangan Bangsa Belanda-Inggris ke Nusantara || Sejarah Wajib || Kelas 11 Semester 1 KURTILAS Revisi