Pendudukan Jepang di Indonesia || Sejarah Wajib || Kelas 11 Semester 1 KURTILAS Revisi

Pendudukan Jepang di Indonesia

A. Jepang Sebagai Negara Imperialis di Asia

1. Restorasi Meiji.

-Awal modernisasi Jepang. Sebelumnya, Jepang adalah negara feodal, dimana kekuasaan dipegang oleh Kaisar, Shogun, dan Daimyo.

Kaisar = Raja

Shogun = Komandan angkatan bersenjata

Daimyo = Gubernur wilayah/penguasa lokal


-Jepang dikuasai  ±200 tahun oleh Shogun Tokugawa :

a. 1639-1854 → Kebijakan sakoku (negara tertutup), ia tidak mau berhubungan dengan dunia internasional.

b. 31 Maret 1854 → Komodor Matthew C. Perry dari USA datang ke Jepang dan berhasil menghapus kebijakan sakoku. Ia datang dengan Kapal Hitam (kapal uang bermesin superjumbo yang teknologinya lengkap). Dampaknya, sakoku dan kekuasaan Shogun berakhir.

Pada 1854, juga terjadi Konvensi Kanagawa. Hasilnya, Jepang bersedia membuka diri terhadap dunia Barat, dan kekuasaan Jepang sepenuhnya berpusat di tangan Kaisar.

c. 1868-1912 → Restorasi Meiji yang dikeluarkan Kaisar Meiji karena mereka sadar Jepang tertinggal teknologinya.

d. 1871 → Misi Iwakura ke USA dan Eropa untuk mempelajari seluk beluk kemajuan dunia Barat. Alhasil, Jepang banyak mengadopsi berbagai hal dari dunia Barat.


2. Awal Imperialisme Jepang

Latar belakang Jepang menjadi Negara Imperialis :

a. Pada masa Kaisar Meiji, pertumbuhan ekonomi sangat pesat.

b. Untuk menjamin pertumbuhan ekonomi, karena perlu beberapa faktor :

   - Jalur pelayaran aman

   - Pasokan bahan mentah harus stabil

   - Pasar bagi hasil industrinya

Jepang menguasai negara-negara kawasan Asia Pasifik.


Awal mula Jepang ke Indonesia → ingin menguasai sumber minyak.

a. 7 Des 1941 → Jepang memborbardir Pearl Harbour milik USA yang ada di Pasifik. Jepang menduduki Filipina dan Burma.

b. 11 Jan 1942 → Jepang mulai menguasai Kalimantan, lalu Sumatera, dan Jawa.

c. Mar 1942 → Pada 8 Maret, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang dalam Perjanjian Kalijati. Jepang menyerang Batavia dan Bandung (9 Maret).


Perjanjian Kalijati (Kapitulasi Kalijati)

Kapitulasi → Penyerahan kekuasaan akibat kalah perang kepada pihak yang menang.

Latar Belakang → Kondisi Perang Dunia II (Perang Asia Pasifik/ Asia Timur Raya) yang terjadi di kawasan Asia dan Samudra Pasifik.

Penyebab → Kekalahan Belanda terhadap Jepang pada Perang Pasifik.

Fact : Dalam perang, Belanda dibantu oleh ABDACOM (American British Dutch Australian Command) namun tetap kalah.

Kalijati, Subang, Jawa Barat merupakan tempat pertempuran terakhir Belanda terhadap Jepang merebut Pangkalan Udara Kalijati (1-3 Mar 1942)

Tokoh Perjanjian Kalijati :

a. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (Gub. Jend. Hindia Belanda)

b. Letjen Hein Ter Poorten (Komandan Akt. Perang Belanda di Jawa)

c. Jend. Hitoshi Imamura (Jend. tentara Jepang)


B. Kebijakan Pendudukan Jepang di Indonesia

1. Pemerintahan Militer Jepang

a. Rikugun (Akt. Darat) → tentara ke-25 untuk Sumatra dan berpusat di Bukittinggi, tentara ke-16 untuk Jawa dan Sumatra dan berpusat di Jakarta (khusus daerah ini akan diperkuat lagi oleh Akt. Laut Jepang)

b. Kaigun (Akt. Laut) → Armada Selatan ke-2 untuk Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan berpusat di Makassar.


Jepang menduduki Indonesia untuk kepentingan Perang Dunia II. Jepang membentuk organisasi untuk menggalang dukungan dari rakyat Indonesia.

Fact : Jabatan tertinggi pada masa pendudukan Belanda adalah Gubernur Jenderal, sedangkan pada masa Jepang adalah Panglima tentara sebagai Panglima tertinggi.


2. Organisasi Sosial Masa Jepang

a. Gerakan 3A

Ketua : Raden Syamsudin

Tanggal dibentuk : 29 Maret 1942

Tujuan : menggalang dukungan rakyat Indonesia agar mendukung Jepang dalam PD II.

3 Semboyan : Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia.


b. Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA)

Pemimpin : Empat Serangkai (Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, K.H. Mas Mansyur, Ki Hajar Dewantara)

Tanggal dibentuk : 16 April 1943

Tujuan : menyebarkan propaganda kepada rakyat Indonesia untuk mendukung Jepang


c. Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI)

Kembali aktif oleh Jepang pada 4 Sept 1942.

Tujuan : agar umat Islam dapat bersatu dan membantu Jepang dalam perang.

Jepang tidak puas dengan kinerja MIAI, sehingga dibentuk organisasi baru bernama Majelis Syuro Muslimin Indonesia / Masyumi yang diketuai oleh K.H. Hasyim Asyari.


d. Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa)

Pengganti PUTERA, dipimpin langsung oleh Jepang.

Tujuan : mengerahkan tenaga dan potensi sosial-ekonomi rakyat untuk mendukung perang Jepang, memperkokoh pembelaan tanah air.

Keanggotaan Jawa Hokokai :

- Fujinkai (Organisasi Perempuan)

Penamaan di setiap daerah berbeda, misalnya di Jakarta bernama Jakarta Tokubetsu Si Fujinkai. Asal nama ini dari organisasi perempuan militan di Jepang (Dai Nippon Fujinkai).

Peran : pertolongan/penanganan kesehatan, bantu urusan logistik, dan menanam serta membuat baju dari goni.

Jepang memperkuat Fujinkai dengan membentuk barisan Srikandi (April 1944), yaitu barisan pejuang perempuan yang berusia 15-20 tahun.


-Keimin Bunka Shidoso (KBS) (Organisasi Kebudayaan)

Dibentuk bulan April 1943, dan tahun 1944 menjadi anggota Jawa Hokokai.

Tujuan : menciptakan karya-karya propaganda untuk membantu Jepang menghadapi perang Pasifik.

Fact : Mars romusha berjudul "Barisan Pekerdja" dibuat KBS.


3. Pembentukan Organisasi Semi-Militer

a. Seinendan → pemuda 14-22th sebagai pasukan cadangan Jepang.

b. Keibodan → pemuda 23-25th sebagai pembantu polisi untuk keamanan dan ketertiban

c. Barisan pelopor → dibentuk 1 Nov 1944.

d. Hizbullah → Dibentuk 15 Des 1944 di bawah naungan Masyumi. Anggotanya para pemuda Islam yang mendapat pelatihan militer.

e. Gakutotai (Resimen Tentara Pelajar)

f. Jibakutai


4. Pembentukan Organisasi Militer

a. Heiho (Pasukan Pembantu)

Anggota : prajurit Indonesia yang resmi termasuk tentara militer Jepang.

Tujuan : membantu tentara Jepang (bangun kubu pertahanan, jaga kamp pertahanan, bantu Jepang di medan perang)


b. PETA (Pasukan Pembela Tanah Air)

Resmi berdiri pada 3 Okt 1943

Tugas : mengamankan wilayah Indonesia dari ancaman pihak manapun, terkhusus Sekutu.


C. Respons Bangsa Indonesia Terhadap Pendudukan Jepang.

Awalnya respons rakyat sangat baik, namun ternyata tak sesuai ekspetasi.

Perlawanan bangsa Indonesia terhadap Jepang melalui 3 cara :

a. Kooperatif → memanfaatkan organisasi bentukan Jepang untuk membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia.

b. Gerakan bawah tanah → bekerja di instansi pemerintahan Jepang, tapi secara tertutup dan rahasia, menghimpun persatuan untuk melawan Jepang.

   -Kelompok Sukarni, Kel. Ahmad Subarjo, Kel. Sutan Sjahrir.

c. Perlawanan bersenjata, sebagai berikut :

   -10 Nov 1942 di Aceh oleh Teuku Abdul Jalil dan Teuku Hamid.

   -25 Feb 1944 di Tasikmalaya oleh K.H. Zaenal Mustofa.

   -April 1944 di Indramayu.

   -14 Feb 1945 di Blitar oleh PETA, pimpinan Supriyadi.

   -Sep 1943 di Desa Unra, SulSel oleh Guru Mante.

   -1943 di Pulau Biak, Papua dengan gerakan Koreri pimpinan L. Rumkorem. Ada lagi namanya Diapen pimpinan Nimrot dan Tanah Basar dipimpin Simson.

   -28 Jun 1944 aksi pembantaian di KalBar dan KalSel (Peristiwa Mandor Berdarah).  Perang Dayak Desa dengan strategi gerilya dan dipimpin oleh Pang Suma dan Pang Linggan.


Dampak-dampak :

a. Politik → Tonarigumi / RT (Rukun Tetangga)

b. Ekonomi → menyita aset-aset ekonomi,

c. Sosial → (+) membentuk struktur sosial baru dimana Indonesia setara dengan bangsa lain. (-) romusha, kelaparan dan kemiskinan, para wanita menjadi korban praktik jugun iafu (wanita penghibur tentara Jepang).

d. Pendidikan → (+) Bhs. Indonesia menjadi Bhs. Pengantar di sekolah, Upacara, (-) Pendidikan terabaikan karena Jepang sibuk perang.

e. Kebudayaan → pusat kebudayaan KBS

f. Militer → warisan ilmu dan strategi militer


Note : seikerei → ritual penghormatan kaisar Jepang dengan membungkukkan badan ke arah matahari terbit.


D. Akhir Kependudukan Jepang

1. Janji Koiso (Janji Kemerdekaan)

Pada 7 Sept 1944, Perdana Menteri Kuniaki Koiso memberi janji kemerdekaan kepada Indonesia (tujuannya menarik simpati rakyat Indonesia agar mau membantu Jepang dalam PD II).


2. Pembentukan BPUPKI dan PPKI

Pada 1 Maret 1945, BPUPKI dibentuk dengan ketua Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Anggotanya 60 + 7 orang Jepang. Sidang dilakukan 2 kali :

a. 29 Mei-1 Juni 1945 → membahas dasar negara

Pada 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menyusun Piagam Jakarta.

b. 10-17 Juli 1945 → bahas Rancangan UUD, bentuk negara, batas wilayah negara, dan kewarganegaraan.

Pada 7 Agustus 1945, BPUPKI bubar dan diganti PPKI yang diresmikan oleh Jepang pada 9 Agustus 1945.

Marsekal Terauchi memanggil Soekarno, Hatta, dan Radjiman pergi ke Dalat, Vietnam. Pemerintah Jepang memberi janji kemerdekaan tanggal 24 Agustus 1945. 

-Pada 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Terjadilah kekosongan kekuasaan (vacuum of power). Golongan muda mendesak Soekarno agar segera memproklamasikan. 

-Soekarno menolak karena ingin meminta pendapat dari PPKI

-Pada 16 Agustus, Soekarno dan Hatta diculik golongan muda ke Rengasdengklok Karawang dan dipaksa untuk memproklamasikan melalui radio. Malam hari, mereka kembali ke Jakarta.

-Pada 17 Agustus 1945, proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jl. Pegangsaan Timur 56.


Fact : 

1. Diculik ke Rengasdengklok karena ada markas PETA, dan sulit dijangkau dari sana sini.

2. Jepang menerapkan kebijakan Politik Dumping, politik yang dilakukan dengan menjual produk di luar negeri lebih murah dari pada dalam negeri. Tujuan Kebijakan dumping ini untuk menguasai pasar di luar negeri dan untuk menghasilkan produk lama yang mungkin kurang maju.

3. Lagu kebangsaan Jepang adalah Kimigayo




Sumber : Ruangguru.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat-sifat Gereja || Agama Katolik || Kelas 11 Semester 1 KURTILAS Revisi

Sumpah Pemuda dalam Masa Pergerakan Nasional || Sejarah Wajib || Kelas 11 Semester 1 KURTILAS Revisi

Sejarah Kedatangan Bangsa Belanda-Inggris ke Nusantara || Sejarah Wajib || Kelas 11 Semester 1 KURTILAS Revisi